HUBUNGAN FAKTOR KELUARGA DENGAN KEJADIAN DEPRESI PADA LANSIA (Studi di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Blitar di Tulungagung)

  • Dhian Ika Prihananto Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Norma Risna Sari Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Bayu Septa Yoga Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Mega Sintia Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Siti Solekha Universitas Nusantara PGRI Kediri
Abstract views: 113 , PDF downloads: 66
Keywords: Keluarga, depresi pada lansia

Abstract

Depresi adalah suatu bentuk gangguan jiwa yang ditunjukkan dengan gejala-gejala diantara merasa sedih, pikiran kacau, putus asa, konsentrasi berkurang, kehilangan minat melakukan sesuatu, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, nafsu makan berkurang, susah tidur, berpikir untuk bunuh diri dan pada akhirnya melakukan percobaan bunuh diri. Depresi merupakan gangguan mental yang paling sering terjadi pada lansia. Orang tua yang sudah lanjut usia banyak memikirkan keluarganya, hal tersebut  juga bisa menjadi depresi. Banyak orang tua yang merasa depresi sebab memikirkan anggota keluarganya, bayi, anak, maupun cucu. Orang tua lebih banyak berpikir mengenai kehidupan anaknya dan berbagai perasaan lainnya. Kondisi tersebut akan mendorong orang tua yang memasuki lanjut usia rentan terhadap kondisi depresi dan susah untuk mendapatkan kehidupan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor keluarga dengan kejadian depresi pada lansia di UPT Pelayanan Lanjut Usia Blitar di Tulungagung. Penelitian ini merupakan penelitian mix method, desain studi case- control. Populasi studi yaitu lansia yang mengalami depresi di di UPT Pelayanan Lanjut Usia Blitar di Tulungagung. Sampel terdiri dari 26 kasus dan 26 kontrol yang diambil secara consecutive sampling. Instrument penelitian adalah Skala pengukuran depresi pada lansia (Beck), kuesioner wawancara. Analisis data secara univariat, bivariat (chi-square). Hasil penelitian yaitu responden yang memikirkan keluarga pada kelompok kasus sebanyak 13 responden (50%) dan pada kelompok kontrol sebanyak 3 responden (11,5%). Hasil uji bivariat (chi-square) diperoleh nilai p=0,007  OR=7,667  95%CI=1,839 – 31,965. Simpulannya terdapat hubungan faktor keluarga dengan kejadian depresi pada lansia. Lansia yang memikirkan keluarga memiliki risiko 7,667 kali lebih besar untuk menderita depresi dibandingkan lansia yang tidak memikirkan keluarga.

References

Soejono, C.H. Pedoman Pengelolaan Kesehatan Pasien Geriatri: untuk Dokter dan Perawat. Jakarta: Penerbit FK UI; 2006.
Ausrianti, R. Hubungan Antara Tingkat Depresi Dengan Tingkat Kemampuan Melaksanakan Aktivitas Dasar Sehari-Hari Pada Lanjut Usia Di Pstws Abai Nan Aluih Sicincin; 2010.

American Psychiatric Association. (1994). “Diagnostic & Statistical Manual of Mental Disorders, 4th edition.”. American Psychiatric Assoc,Washington DC, 124-320.

Depkes dan Kesejahteraan Sosial RI.(2001). “Pedoman Pembinaan Kesehatan Jiwa Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan”, Jakarta.

Baldwin RC, Chiu E, Katona CLE, Graham N. (2002). “Guidelines on depression in older people. Practising the evidence. Great Britain.

Hamid, A. (2007)/ Kementerian Sosial RI. Penduduk Lanjut Usia Di Indonesia Dan Masalah Kesejahteraannya. http://www.kemsos.go.id/modules.php? name=News&file=print&sid=522

World Health Organization (WHO). (2011)/ Depression. http://www.who.int

Badan penelitian dan pengembangan kesehatan. Riset Kesehatan Dasar. (RISKESDAS 2013). Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013.
Sappaile N., (2013). A Systematic Review: Group Counselling for Older. People with Depression. 2nd International Seminar on Quality and Affordable Education (ISQAE)

Henuhili, S. (2004). Proporsi Gangguan Mental pada Lanjut Usia yang Tinggal di Sasana Wreda Yayasan Karya Bakti Ria Pembangunan Cibubur. Tesis, FIK Universitas Indonesia.
Sumber Data UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Blitar di Tulunganggung. Data lansia. 2018.

Kaplan H.I., & Sadock B.J. (2010). Sinopsis Psikiatri. Jilid 1. Ed 2. Tangerang: Binarupa Aksara.

Smoliner, C. Malnutrition and depression in the institutional eldely. The British Journal of Nutrition 2009; 02 (11) 1663-7.

Rosita, (2012). Stressor Sosial Biologi Lansia Panti Werdha Usia dan Lansia Tinggal Bersama Keluarga. Jurnal BioKultur, Vol. I, No.1, Hal. 43-52.

Prabowo, H. (2007). Tritmenmeta Music Untuk Menurunkan Stress. Proceeding pesat (psikologi, ekonomi, sastra, arsitek, & sipil) auditorium kampus gunatama, 21-22.
Stanley, M. & Beare, P.G.(2007). Gerontological Nursing. Jakarta: EGC

Sustyani, R., Indriati, P., Supriyadi, MN, (2012). Hubungan antara Depresi dengan Kejadian Insomnia pada Lanjut Usia di Panti Wredha Harapan Ibu Semarang. jpkeperawatandd120037, Vol.2, Hal. 1-8.

Hendry Irawan (2013). Gangguan depresi pada lanjut usia. CDK-2010/vol.40. no.11.

Teguh Pribadi. Hubungan Peran keluarga dengan depresi pada lansia. Jurnal Kesehatan Holistik. 2017 : 11 ; 2 : 82-89.

Gusti Ayu Trisna Parasari dan Made Diah Lestari. Hubungan dukungan sosial keluarga dengan tingkat depresi pada lansia. Jurnal Psikologi Udayana.2015. 2 : 1 : 68-77.

Azizah, L, M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu

Anonim. (2016)/Hormon Oksitosin: Hormon Cinta di Dalam Kehidupan Manusia.http://www.alodokter.com/hormon-oksitosin-hormon-cinta-di-dalam-kehidupan-manusia
Published
2020-08-14
How to Cite
Prihananto, D. I., Sari, N. R., Yoga, B. S., Sintia, M., & Solekha, S. (2020). HUBUNGAN FAKTOR KELUARGA DENGAN KEJADIAN DEPRESI PADA LANSIA (Studi di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Blitar di Tulungagung). Judika (Jurnal Nusantara Medika), 4(1), 19-25. https://doi.org/10.29407/judika.v4i1.14675