Medan magnet di sekitar rel kereta api

Main Article Content

sulhan fauzi

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah benar ada medan magnet di sekitar rel saat kereta api sedang melintas. Beberapa kecelakaan yang melibatkan kereta api dan mobil di atas perlintasan kereta api diperkirakan disebabkan karena medan megnet ini. Belum ada penelitian atau data resmi dari kepolisian yang menjelaskan penyebab tiba-tiba mesin kendaraan bermotor tersebut mati saat melintas di atas rel yang ada kereta apinya sedang berjalan. Pendapat lain juga muncul dari kejadian ini, yaitu karena sopir atau pengendara kendaraan tersebut gugup saat melihat kereta yang melintas waktu lewat di atas rel, sehingga menjadi kehilangan fokus saat mengemudi sehingga menyebabkan mesin kendaraannya mati.
Data hasil pengukuran medan magnet menunjukkan bahwa nilai medan magnet di sekitar rel kereta api saat kereta api melintas rata-rata 47,73 µT, dengan nilai medan magnet terendah 22,46 µT dan nilai tertingginya  82,06 µT. Nilai tersebut tidak berbeda jauh dengan nilai medan magnet bumi yaitu antara 25-65 µT.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
FAUZI, sulhan. Medan magnet di sekitar rel kereta api. Jurnal Mesin Nusantara, [S.l.], v. 2, n. 1, p. 27-33, aug. 2019. ISSN 2621-9506. Available at: <http://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/JMN/article/view/13134>. Date accessed: 15 oct. 2019. doi: https://doi.org/10.29407/jmn.v2i1.13134.
Section
Articles

References

[1] Alonso, Finn. “Fundamental University Physics”. New York: Addison Wesley. 1990.

[2] Halliday dan Resnick. “Fisika Jilid I, terjemahan Pantur Silaban dan Erwin S”. Jakarta: Erlangga. 1999.

[3] Tipler, P.A. “Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid 1, terjemahan Lea Prasetio dan Rahmad W”. Adi. Jakarta: Erlangga. 1998

[4] Campbell, Wallace H. “Introduction to geomagnetic fields (edisi ke-2nd)”. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-52953-2. 2003

[5] Gustara, M.Y. “Deteksi Medan Magnet Kereta Untuk Informasi Dini Sistem Pemberhentian Darurat Berbasis Mikrokontroler Arduino Uno R3 dengan Sensor Solenoid”, Skripsi, Fakultas Teknik Universitas Lampung, Bandar
Lampung. 2016.

[6] Natalia Ptitsyna, Antonio Ponzetto. “Magnetic Fields Encountered in Electric Transport: Rail Systems, Trolleybus and Cars”. Published in International Symposium on Electromagnetic. DOI:10.1109/EMCEurope.2012.6396901. 2012

[7] Jein Sintia Dewi Ta’uno, Gerald H. Tamuntuan, Seni H.J. Tongkukut. “Analisis Medan Magnet Bumi Sebelum dan Sesudah Kejadian Gempa”. Jurnal MIPA UNSRAT ONLINE, Vol. 5 (2), 65-69. Jurusan Fisika, FMIPA, Unsrat Manado. 2016.

[8] Teguh Prasetyo, Adey Tanauma, As’ari. “Pola Variasi Reguler Medan Magnet Bumi di Tondano”. Jurnal MIPA UNSRAT ONLINE, Vol. 3 (1), 30-34. Jurusan Fisika, FMIPA, Unsrat Manado. 2014.

[9] Vincent J. Hare, John A. Tarduno, Thomas Huffman, Michael Watkeys, Phenyo C. Thebe, Munyaradzi Manyanga, Richard K. Bono and Rory D. Cottrell. “New Archeomagnetic Directional Records From Iron Age Southern Africa (ca. 425–1550 CE) and Implications for the South Atlantic Anomaly”. Geophysical Research Letters. Volume 45, Issue 3. Published online Feb 15, 2018 https://doi.org/10.1002/2017GL076007

[10] Maxwell Brown, Monika Korte, Richard Holme, Ingo Wardinski, and Sydney Gunnarson. “Earth’s magnetic field is probably not reversing”. Proceeding of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS). Volume 115 (20) 5111-5116; first published April 30, 2018 https://doi.org/10.1073/pnas.1722110115